Theme
Coba tebak..
ArchiveRSS
Bertele-tele, berputar-putar. Seperti kehidupan pada umumnya.

Tunggu, katanya.

Kalau cinta sih bakalan nunggu.

Kalau cinta sih ga bakalan bikin nunggu.

Aku capek memikirkan siapa yang lebih egois. Aku atau kamu. Sudah lebih dari 5 tahun aku mengenalmu, dan rasanya semakin lama kita kenal, semakin rumit jalan pikiranmu.

Aku capek. Mendengar segala alasanmu yang berbelit-belit, kata-katamu yang terjalin rumit, dan sepasang mata bening yang berkilat dengan penuh kesungguhan. Tapi sampai kini, aku tidak pernah bisa benar-benar membedakan kata-kata yang keluar dari hatimu, dengan kata-kata yang kamu ucapkan sekenanya.

Dengan berlalunya waktu, semuanya makin blur.

“Kinan, percaya sama gue.”

Tapi kamu tidak bisa dipercaya, Gladi. Tidak lagi, setelah semua janji yang kamu ucapkan, dan kamu langgar. 

“Tungguin gue, Nan.”

Seminggu, dua minggu, 4 bulan. Sampai kapan, Gladi? Pertanyaan yang selalu keluar dari mulutku, dalam tiap SMS-ku, di ujung tiap teleponku. Pertanyaan yang tidak pernah kamu jawab. Pertanyaan yang jawabannya takut untuk kudengar. 

-

“Kinanti.” Aku mendongak, memandangi Adra yang sedang nyengir ke arahku. Kedua tangannya menggenggam es krim, salah satunya ia sodorkan kepadaku.

“Jadi pacarku, ya?”

-

Gladi. Gladi. Gladi.

Hanya nama itu yang ada di otakku. Dan mungkin juga di hatiku.

Tungguin gue, Nan.

Tunggu, katanya.

-

Sampai kapan?

Hanya hening, dan senyuman yang kamu sunggingkan.

Itu bukan jawaban.

-

“Iya Dra, aku mau.”

Rasa pahit.

Aku mengeratkan jaket biru tua yang kukenakan. Jaket milikmu, yang kamu pinjamkan dulu, yang belum sempat aku kembalikan bahkan setelah kita putus waktu itu.

Jaket yang sudah terlalu lama ada di dasar tumpukan bajuku, hingga sudah tidak ada lagi harum tubuhmu yang tersisa. Campuran wangi menenangkan antara air hujan dan kopi.

Sebuah kedai kopi kecil di tikungan jalan yang sudah kuhafal mati letaknya, membuat langkahku terhenti. Jantungku berdetak lebih cepat.

Konyol. Sudah hampir setahun dan masih saja begini. 

Aku mendorong pintu kacanya hingga terbuka, merasakan hembusan dingin AC. Kedai ini masih sama. Jendela-jendela kaca besar berkusen jati, langit-langit tinggi dan bohlam yang bergantungan. Kursi-kursi bercat putih dan beja kayu bernuansa sama.

Aku duduk di pojok kedai, di pinggir jendela yang menghadap langsung ke jalan raya, meja yang terletak di depan hembusan AC. Tempat favoritmu, dan tempat yang selalu membuatku bersin-bersin karena tidak tahan dingin. Tempat dimana kamu tertawa kecil dan meminjamkan jaketmu.

“Pesanannya, Mbak?” Seorang waitress menghampiri mejaku. Aku mengatakan pesananku dan 15 menit kemudian seporsi kuo tie dan secangkir espresso tiba di mejaku.

Dulu aku mengomel waktu kamu pesan dimsum disini. Masa di kedai kopi malah pesan dimsum. Tapi kamu berkilah dan bilang kalau kuo tie disini tidak ada tandingannya. 

Sekarang aku pesan makanan kesukaanmu. Makanan yang tidak pernah aku suka karena kulitnya yang lengket suka menempel di langit-langit mulutku.

Aku menyeruput espresso di mug keramik, lalu aku mengernyit. Pahit sekali. Aku tidak pernah mengerti kenapa kamu suka sekali dengan minuman ini. Minuman yang juga tidak aku suka. Dan aku selalu ingat ekspresi mengesalkan yang kamu buat ketika mengomentari aku yang tidak kuat dengan rasa pahit.

Tapi kamu salah, Gar. Aku kuat merasakan pahit. Kepergianmu jauh lebih pahit daripada apapun. Bahkan rasa pahit kopi ini tidak ada apa-apanya. Lidahku memang mati rasa, tapi tidak lama lagi akan kembali seperti semula. Sementara hatiku masih mati rasa. Bahkan setelah selama ini.

Dan disinilah aku sekarang, memakai atasan berenda yang dulu sering kamu puji, dengan jaketmu, memesan makanan dan minuman kesukaanmu, di pojok favorit dari kedai langgananmu.

Sendirian. Memajamkan mata dan mencoba mengingat semua obrolan kita yang seakan tidak ada habisnya. 

Bagus tau, Nya, kita suka makanan yang beda. Itu berarti kita saling melengkapi.

Kalau habis minum kopi sepahit ini, semuanya bakal kerasa lebih manis tau, Nya.

Lucu, Gar. Setahun lalu kamu bilang begitu, dan sekarang rasanya tidak ada lagi yang bisa melengkapiku, dan tidak ada rasa manis yang menghapus pahit kepergianmu.

Menyedihkan, memang. Tapi untuk hari ini saja, biarkan aku berpuas-puas mengenang rasa pahit yang adalah kamu.